Senin, 19 Oktober 2015

Political Marketing-Propaganda antara Prabowo VS Jokowi pada Pemilu 2014


PROPAGANDA PEMILU 2014 ANTARA PRABOWO VS JOKOWI
        I.            PRABOWO
Description: D:\PRABOWO III.jpg 
Tipe Propaganda           :  Propaganda yang disengaja, yaitu dengan sengaja mengindoktrinasi komunikan dengan pandangan-pandangan tertentu.  Slogan tim Prabowo adalah ‘selamatkan Indonesia’. Slogan ini efektif untuk melancarkan dua alat propaganda lainnya. Pertama adalah ‘pembentukan ‘musuh’ bersama’, musuh yang dibayangkan adalah segala bentuk ancaman dari luar/asing. Sentimen yang muncul dari pembentukan rasa takut secara kolektif ini sejalan dengan citra yang dibangun tentang Prabowo. Karena ada ‘musuh’, maka kita butuh pemimpin militeristik yang ‘kuat’, ‘tegas’, ‘berani’ dan ‘agresif’. Kedua, yaitu rasa urgensi (sense of urgency). Perasaan oleh ‘rasa takut’ bahwa ada bahaya laten menghadapi bangsa. Seperti kebanyakan alat propaganda tradisional lainnya, propaganda ini beroperasi dengan mengeksploitasi emosi masyarakat dan bukan membangun cara berpikir yang logis.
Teknik Propaganda   : Teknik Transfer Image. Citra ‘ksatria militer ideal’ pun dibangun dengan simbol-simbol tradisional. Prabowo menggunakan burung garuda untuk melekatkan ide nasionalisme, sementara kuda dan keris digunakan untuk memainkan nostalgia ksatria militer Jawa. Rasa ‘aman’ yang ditawarkan dengan simbol-simbol ini bekerja melalui pembentukan ide pemimpin yang patriotik, militeristik yang akan ‘memenangkan’ Indonesia menjadi ‘bangsa yang ditakuti, disegani dan dihormati’ melalui penaklukan ‘musuh’. Citra Prabowo sebagai ‘ratu adil’ ini dibangun dengan teknik-teknik estetika visual yang khas dalam iklan-iklan kampanyenya. Teknik yang pertama adalah dengan membangun sosok narsisistik, sosok ‘aku’. Teknik kedua adalah pengambilan gambar dan voice-over yang dibiarkan impersonal dan berjarak, seakan-akan kita semua sedang menyaksikan Prabowo tanpa ikut di dalamnya.

     II.            JOKOWI
Description: D:\JOKOWI V.jpg 
Tipe Propaganda   :  Propaganda yang tersembunyi, yaitu propagandis menyelubungi tujuan yang sebenarnya. Hubungan pemimpin dan yang dipimpin pun dibuat kooperatif—ada kerjasama dua arah. Ini sesuai dengan orientasi kampanyenya yang berorientasi pada pembentukan komunitas. Jokowi juga mempopulerkan aktivitas ‘blusukan’ yang juga menjadi simbol propaganda Jokowi. Dalam blusukan, jokowi membuat politik komunikasi yang dua arah-saling mendengar dan memberi masukan, dan membentuk hubungan yang personal dengan calon pendukung. Politik komunikasi dua arah seperti ini memungkinkan masyarakat menggunakan kemampuannya untuk menjadi ekstensi propaganda, dengan menjadi relawan, ikut kampanye dll. Dukungan kepada Jokowi banyak bermunculan dengan turunnya masyarakat ke jalanan dengan menjadi relawan, selebaran/koran, membuat kampanye lewat blog, twitter, facebook, membuat lagu simpatisan
Teknik Propaganda   :  Glittering Generalities, yaitu dengan menggunakan “kata yang baik” untuk melukiskan sesuatu agar memperoleh dukungan, tanpa menyelidiki ketepatan asosiasi itu.  Tekniknya fokus pada pembangunan komunitas. Slogan kampanyenya ‘Indonesia hebat’ (atau ‘Jakarta baru’ di masa pencalonan gubernur), membangun rasa bangga dan ‘mandiri’. Simbol Jokowi yang paling dikenal adalah baju kotak-kotak merah, baju kotak-kotak memiliki kesan tidak formal dan santai jadi efektif dalam memikat anak-anak muda dan juga kemeja putih polos dengan lengan tangan dilipat ke atas, sehingga ia sering dianggap mengidentifikasi diri dengan kaum pekerja—bukan kelas berjas dan berdasi—dan membuat citra sosok kelas bawah yang sederhana. Iklan TV kampanye Jokowi muncul diakhir iklan untuk mempromosikan partainya. . Penggunaan kata ‘kita’ dalam voice-over beberapa iklan memberikan rasa inklusif bagi penonton. Hubungan antara Jokowi dan penonton jadi tidak berjarak dan lebih personal. Dengan membangun rasa komunitas dan hubungan kerjasama horisontal, tim Jokowi berhasil mengorganisir masyarakat dan merangsang munculnya aktivitas-aktivitas dari bawah ke atas (bottom up) untuk mengkampanyekan dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar